YuTuber Sebagai ‘Kuda Hitam’ Langakah Politiknya Wajib Di Perhitungkan

BANDARLAMPUNG-(lintasindonesia1.com) Gerbong mesin partai politik (Parpol) sudah mulai dipanaskan, untuk menghadapi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember 2020 mendatang.

Tak luput pula Kota Bandarlampung melaksanakan pesta demokrasi. Dan dari beberapa bakal calon yang sudah berkumandang, baik calon indefenden (caden) Firmansyah dan Ike Edwin, bacalon parpol, seperti Eva Dwiana, Rycko Menoza, baru pasangan calon (Paslon) Yusuf Kohar-Tulus Purnomo, yang sudah mengantongi 16 kursi sebagai modal awal maju pilwakot Bandarlampung.

Melihat gerakan paslon yang sudah direkomendasi beberapa parpol yakni PAN, Partai Demokrat, PKB dan Perindo ini, berdasarkan analisa pengamat politik dari Universitas Lampung (Unila) Yusdianto, Senin (27/07/2020) mengatakan, jika paslon ini diprediksi jadi ‘Kuda Hitam’ dimana langkah politiknya wajib diamati.

Menurutnya, melihat dan belajar dari dua kali proses pemilihan gubernur (Pilgub) 2014 pasangan Ridho Ficardo-Bachtiar Basri dan Pilgub 2019 Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim, dimana kedua gubernur terbesut awalnya elektabilitas mereka cukup rendah dan tidak pula diperhitungkan, akan tetapi di akhir pertempuran pilgub paslon baik Ridho-Bachtiar menang telak, begitu juga Arinal-Nunik pun menang dalam pilgub.

Dosen Unila ini menganalisa, meskipun popularitas dan elektabilitas paslon Yusuf Kohar-Tulus Purnomo yang memilih tag line ‘YuTuber’ (Yusuf-Tulus Bersama Kita) bukan di urutan teratas.

Namun, hal ini dinilai jangan sampai membuat terlena, karena rendahnya elektabilitas dan popularitas bisa digenjot dan disinilah peran keduanya bisa meyakini masyarakat sampai memilihnya di bilik suara.

“Disini yang perlu diamati, langkah politik YuTuber ini yang sulit sekali ditebak, makanya, ini saya analisa jadi kuda hitam dalam Pilkada Kota Bandarlampung. Karena, belajar dari Pilgub Lampung Paslon elektabilitas dan popularitas rendah, malah menjadi pemenang,” ujarnya.

Untuk menjadi ‘Kuda Hitam’ saya kira bisa jadi, maka sebaiknya semua calon juga perlu mewaspadai semua kemungkinan bisa saja terjadi, bisa bakal muncul dan kita berharap yang penting kan Pilkada ini Pilkada yang berkualitas, Pilkada yang bukan hanya memaksakan bahwa harus jadi saja tetapi harus mempertimbangkan aspek-aspek yang lain yang benar-benar berlangsung secara Fair jujur dan adil.

“Jangan karena faktor yang lain, maka sebetulnya yang kita tunggu langkah-langkah dari YuTuber ini, sebagai Kuda Hitam ini, apa sih gagasan gagasan untuk membangun Kota Bandar Lampung ini, kalau dia digemari oleh partai politik tentu punya semacam ‘Jamu’ paling ampuh partai politik saja terlena, jangan-jangan masyarakat bisa dibuat terbuai juga,” jelasnya.

Awalnya, sambung dia, semua mata melihat bahwa Rycko adalah kompetitor dari Eva Dwiana, bukan Yusuf Kohar-Tulus Purnomo karena Yutuber bukan sosok yang diperhitungkan.

“Yusuf Kohar-Tulus Purnomo, dari awal kan ya YK ini bukan sosok yang diperhitungkan untuk mendapatkan Perahu yang Leading munculkan Bung Rycko ini sekarang agak berbeda, kenapa perahu yang yang digemari perahunya Youtuber kan begitu ketimbang Bunda Eva Kalau gue sih ini justru menarik untuk dinanti-nanti di langkah-langkah baik secara langkah politik maupun dia langkah-langkah pemenangan atau langkah-langkah yang taktik atau strategi dari Yutuber,” paparnya.

“Orang melihat awalnya mungkin Bu Eva yang paling tinggi baik dia popularitas atau elektabilitas hari ini munculnya Yusuf Kohar dan Tulus Purnomo. orang juga dikagetkan begitu atau memang sudah menggemari apa yang jadi program kedua paslon ini,” kata dia lagi.

Namun demikian juga, kata dia lagi, semua aspek perlu dilihat di Kota Bandarlampung. Awlanya, dinilai calon di kota digadang-gadang memiliki banyak pasang calon, baik calon independen rupanya calon independen hanya 2. Nah dua ini juga saat ini ibaratnya masuk ruang ICU yang sudah masuk ruang ICU kondisinya dibilang Tumbuh sebelum berkembangnya atau Berkembang sebelum bertumbuh ini juga tergantung penyelenggara kita.

“Nah kita lihat saja penyelenggaranya jangan cuma masuk angin untuk calon independen-independen ini.
Namun, bagaimana cara untuk menerima secara bermartabat dan semoga juga penyelenggaranya masih tegak kepalanya,” tandasnya.

YuTuber, imbuhnya, bisa jadi Kuda Hitam, semua calon waspadai, namun yang paling penting adalah pilkada yang berkualitas pilkada yang bukan memaksakan jadi, perktimbang kan aspek lain, pilkada berlangsung jujur adil, tertib dan aman.

“Masyarakat Kota Bandarlampung ini kan masyarakat yang sudah mulai melek politik. Tapi saya kira memang juga perlu gerakannya Youtuber perlu diwaspadai, semua bukan petahana dan semua sama-sama pendatang baru dalam pertarungan pilkada,” pungkasnya. (Li-1/rls)